Senin, 12 Maret 2018

Perkembangan Moral dan Agama Anak Usia 4-6 Tahun UT PGPAUD

Dulursongo.com | Selamat pagi dan selamat beraktivitas kepada anda semua sobat dulursongo.com Selanjutnya kami ringkas materi Mahasiswa UT PGPAUD yang termasuk judul Perkembangan Moral dan Agama Anak Usia 4-6 Tahun ini sebagai salah satu tugas yang harus disusun oleh mahasiswa UT Jurusan PGPAUD. Mari disimak ringkasan berikut ini dengan baik agar dapat mempresentasikan dengan maksimal bersama teman-teman anda. Berikut ini sobat dulursongo.com

Perkembangan Moral dan Agama Anak Usia 4-6 Tahun UT PGPAUD


A. BATASAN PERKEMBANGAN MORAL
Perkembangan moral adalah bagian dari proses pembelajaran anak atas aturan-aturan dasar. Perkembangan moral adalah bagaimana individu berperilaku terhadap orang lain dalam kehidupan. Lingkungan utama yang mempengaruhi perkembangan moral individu adalah keluarga, sekolah. Sedangkan tujuan utama dari pendidikan moral adalah untuk mengembangkan kesadaran akan benar dan salah, atau lebih dikenal dengan hati nurani.

B. PENDEKATAN STUDI TERHADAP PERKEMBANGAN MORAL
Para ahli memiliki beberapa pendapat dalam menelaah perkembangan moral pada individu. Beberapa ahli menitikberatkan pada sosialisi, kognisi, dan emosi. Berikut uraian dari beberapa pendapat yang menelaah perkembangan moral pada indvidu.
  1. Sosialisasi. Faktor lingkungan memegang peranan penting dalam perkembangan moral. Perkembangan moral adalah proses internalisasi, dimana anak secara bertahap mengadopsi dan memahami aturan dan nilai (norma) dalam masyarakat yang dianggap sebagai tingkah laku yang dapat diterima. Internalisasi terjadi karena interaksi sosial anak dengan orang tua dan masyarakat. 
  2. Kognisi. Pendekatan kognisi lebih banyak menekankan pada tanggung jawab dalam perkembangan moral pada diri pribadi anak, bukan pada orang dewasa di sekitarnya. Melalui interaksi dengan orang dewasa dan teman sebaya, anak membuat kepercayaan moral dan nilai mereka sendiri. 
  3. Emosi. Yang mendasari pendekatan ini adalah anak cenderung bertingkah laku sesuai dengan norma terutama untuk menghilangkan rasa cemas yang timbul. Ada emosi yang menyenangkan dan membantu anak bertingkah laku sesuai aturan, seperti rasa sayang, kedekatan, simpati,dan empati. Adapula emosi yang tidak menyenangkan, seperti malu, rasa bersalah, cemas yang menyebabkan anak bertingkah laku tidak sesuai aturan.
Jadi sikap yang ditampilkan individu, baik secara pribadi atau umum merupakan hasil interaksi dari kogntif (pengetahuan), emosi (kemampuan perencanan dan kepatuhan pada norma), seta sosial (nilai yang terbentuk di masyarakat). 

C. PERKEMBANGAN MORAL DAN PERKEMBANGAN AGAMA
  1. Perkembangan Moral
Menurut ahli, pada usia 4-6 tahun anak mulai memahami aturan dalam cara yang sederhana. Anggapan mereka aturan tidak bersifat fleksibel, tidak dapat diubah, dan dibuat oleh figur otoritas. Menurut Lawrence Kohlberg, perkembangan moral terdir atas 3 tahapan, yaitu:
 a. Tingkat I : Prakonvensional
Tingkat ini diawali oleh anak usia prasekolah, kebanyakn usia sekolah dasar awal, dan beberapa individu di usia remaja. Penalaran prakonvensional adalah bentuk penalaran moral yang paling awal, diamana individu belum mengadopsi atau menginternalisai kesepakatan masyarakat mengenai benar dan salah. Berikut tahapan-tahapannya:
  • 1. Tahap 1: Punishment-Avoidance Dan Obedience. Pada tahap ini individu dalam mengambil keputusan berdasarkan apa yang terbaik bagi dirinya. Konsekuensi yang bersifat fisik menetukan suatu’kebaikan’ atau keburukan. Cara untuk menghindari hukuman tergantung pada penilaian anak sendiri. 
  • 2. Tahap 2: Exchage of Favors. Pada tahap ini ndivdu mulai mengenal dan memahami bahwa orang lain juga memiliki kebutuhan sebagaimana dirinya. Perilaku yang benar dan baik adalah perilaku yang memuaskan kebutuhan seseorang dan kadan-kadang memuaskan kebutuhan orang lain juga.
b. Tingkat II:  Konvensional
  • 1.   Tahap 3: The Interpersonal Concordances or “Good Boy-Nice Girl” Orientation.
Perilaku yang bak adalah perilaku yang menyenangkan atau menolong orang lain dan diterima oleh mereka. Tingkah laku seringkali dinilai berdasarkan niatnya. Jika berperilaku baik, maka mencari pembenaran dengan cara bertingkah laku’manis’. 
  • 2. Tahap 4: Authory and Social Order Maintaining Orientation (orientasi berdasarkan otoritas, aturan pasti, dan pemeliharaa atas aturan sosial).
Perilaku yang benar terdiri atas tugas yang dilaksanakan, menunjukkan rasa hormat pada otoritas, dan mempertahankan aturan sosial. 
c. Tingkat III: Post Konvensional
  • 1. Tahap 5: The Social- Contract Legalistik Orientation
Perilaku yang benar cenderung didefinsikan sebagai hak umum dan hukum individu, yang sudah diuji dan disetujui masyarakat. 
  • 2. Tahap 6: The Universal Ethical Principle Orientation. 
Perilaku yang benar didefinisikan sebagai sebuah keputusan hati nurani berdasarkan prinsip etik diri yang dipilih. Prinsip ini bersifat abstrak dan etik. 
  • 3. Perkembangan Agama
Pada usia dini perkembangan agama identik dengan pemahaman akan Tuhan, yaitu bagaimana mereka memahami keberadaan Tuhan. Berikut tahapan anak terhadap perkembangan agama.
  • 1. Tahap 1
Berlangsung dalam 2 tahun pertama kehidupan. Pada masa ini, pemahaman anak akan Tuhan masih belum jelas, seringkali diasosiasikan dengan orang tuanya.
  • 2. Tahap 2
Biasanya berlangsung pada 10 tahun pertama. Ketika anak usia 3 tahun, umumnya mereka mulai bertanya pada orang tua atau dewasa lainnya tentang hubungan sebab akibat. Dalam masa pembentukan konsep Tuhan selanjutnya, anak sering memikirkan Tuhan awalnya dalam bentuk fisik. Bagi mereka sulit menggambarkan dalam bentuk nonfisik.

D. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN MORAL
  • 1. Penggunaan Alasan
Guru dan orang tua membantu perkembangan moral anak ketika melihat mereka berusaha untuk menyakiti orang lain dengan alasan dan solusi yang tepat.
  • 2. Interaksi dengan Sebaya
Hal ini terlihat dalam aktivitas dalam keompok bermain yang terkait dengan kerjasama, berbagi dan perundingan.
  • 3. Contoh Tingkah Laku Moral dan Perilaku Sosial
Anak terlihat lebih mudah menampilkan perilaku moral dan proporsional saat mereka melihat orang lain yang berperilaku sesuai moral.
  • 4. Isu-isu dan Dilema Moral
Kohlberg mengajukan pendapat bahwa anak mengembangkan kemampuan moral ketika mereka dihadapkan pada dilema moral yang tidak dapat mereka atasi sesuai perkembangan moral. Sehingga dibutuhkan penalaran dan pemahaman agar anak mampu bertingkah laku sesuai dengan perkembangan moral yang lebih tinggi.  

Baca juga pilihan redaksi : 
Berdasarkan penjelasan di atas sobat dapat menggunakannya sebagai bahan referensi bahan materi yang sobat susun untuk melengkapi tugas yang anda serahkan kepada Dosen Pembimbing. Agar mendapatkan nilai yang memuaskan sobat dapat menyusun tugas ringkasan dengan apik dan rapi sesua dengan modul pembelajaran. Pastikan semua materi sudah terwakili ke dalam tugas anda. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat untuk anda sobat dulursongo.com ikuti terus perkembangan artikel-artikel yang berbobot kami dalam website www.dulursongo.com salam hangat dari redaksi dulursongo.com  demikian terima kasih. 

www.dulursongo.com | 13 Maret 2018  
Previous Post
Next Post

0 komentar:

Silahkan di Like Dulu ya kawan..!!!

×